Minggu, 15 Agustus 2010

Perempuan Punya Derita

Di dalam buku yang berjudul The Girls of Riyadh,
Rajaa al-Sanea menceritakan kisah nyata keempat sahabatnya di Riyadh yang bernama Qamrah El Qashmany, Shedim El Harimly, Lumeis Jadawy, dan Michelle El Abdul Rahman. Keempat sahabatnya itu, masing-masing memiliki kisah yang dapat dikaji berdasarkan proses berpikir yang berkembang di lingkungan mereka dalam memandang perempuan dan segala problematikanya.

Kisah yang pertama adalah tentang Qamrah El Qashmany. Qamrah menikah dengan Rasyid melalui prosesi perjodohan. Dengan terpaksa, keduanya memenuhi keinginan orang tua masing-masing. Pada akhirnya, Rasyid berselingkuh dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap Qamrah, lalu Qamrah menjadi seorang janda dan membesarkan anaknya seorang diri. Di Riyadh, perjodohan merupakan hal yang biasa terjadi. Menurut adat yang berlaku di sana, perempuan tidak memiliki hak apapun untuk menolak perjodohan. Sejak kecil, mereka diajarkan bahwa perintah orang tua adalah sesuatu yang harus dituruti, sekalipun itu adalah perjodohan. Seorang anak perempuan mulai belajar mengenai apa yang harus dipatuhi dari perlakuan orang lain di sekitarnya terhadap anak perempuannya. Ketika ia melihat bahwa seorang perempuan tidak diperbolehkan untuk memilih pasangannya sendiri, ia pun melakukan hal yang sama. Di dalam benaknya, terpatri pemahaman bahwa seorang perempuan memang tidak memiliki hak untuk memilih pasangannya sendiri karena orang tua lebih berkompeten untuk memilihkan jodoh baginya. Perempuan-perempuan itu mengenali kedudukannya dengan melakukan sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat. Inilah yang disebut dengan pemahaman kinestetis, yaitu pemahaman yang dipelajari dari berbuat. Dalam hal ini, pemahaman dipengaruhi oleh keadaan sosio-kultural di sekitarnya.

Kisah yang kedua adalah tentang Shedim El Harimly. Shedim menyerahkan keperawanannya kepada Walid, tunangannya. Tragisnya, Walid meninggalkan Shedim setelah malam pertama pra nikah itu. Berpalingnya Walid ini mungkin dikarenakan pandangannya terhadap Shedim berubah semenjak malam pertama itu. Walid mencapai pemahaman ikonis, yang diperolehnya melalui pengalamannya yang menunjukkan kesamaan dan generalisasi. Di Riyadh, perempuan yang menyerahkan keperawanannya sebelum menikah dianggap bukan perempuan baik-baik. Berdasarkan kejadian yang Walid alami maupun saksikan, Walid menjadi yakin bahwa Shedim adalah bukan perempuan baik-baik. Beberapa waktu berselang, Shedim menjalin hubungan dengan Faraz. Menjelang pernikahan mereka, Shedim menceritakan masa lalunya dengan Walid kepada Faraz. Kejadian tragis kembali menimpa Shedim. Faraz meninggalkannya dan menikah dengan perempuan lain. Di Riyadh, keperawanan adalah simbol kesucian perempuan yang harus dijaga hingga ia menikah. Hilangnya keperawanan Shedim, secara simbolis, merupakan nilai minus bagi Faraz.

Kisah yang ketiga adalah tentang Lumeis Jadawy. Lumeis memilih untuk menentukan pasangannya sendiri, yaitu Ali. Namun, mereka harus berpisah karena perbedaan aliran yang dianut oleh keluarga masing-masing. Keluarga Ali adalah penganut aliran Syiah, sedangkan keluarga Lumeis adalah penganut aliran Sunni. Di Riyadh, menikah antara penganut aliran Syiah dan Sunni memang tidak lazim terjadi. Menurut adat yang berlaku di sana, perbedaan aliran merupakan hal prinsipil sehingga pemeluk aliran yang berbeda ‘dilarang’ untuk menikah. Sejak kecil, anggota keluarga mereka diajarkan bahwa pernikahan beda aliran itu ‘dilarang’. Ketika mereka melihat bahwa orang-orang di sekitarnya tidak ada yang melakukan pernikahan antara Syiah dan Sunni, mereka pun melakukan hal yang sama, dengan melarang hubungan Lumeis dan Ali. Inilah yang disebut dengan pemahaman kinestetis, yaitu pemahaman yang dipelajari dari berbuat. Dalam hal ini, pemahaman dipengaruhi oleh keadaan sosio-kultural di sekitarnya.

Kisah yang keempat adalah tentang Michelle El Abdul Rahman. Michelle harus mengakhiri hubungannya dengan Faishal karena calon mertuanya tidak berkenan dengan ibu Michelle yang keturunan Amerika Serikat. Mendengar kata Amerika Serikat, maka orang tua Faishal mengaitkannya dengan beberapa konsep yang disimbolkan dengan kata-kata seperti: negara pendukung Yahudi, pencipta ‘teror’ di Irak, bebas di luar batas ketimuran, dan lain sebagainya. Ini artinya, orang tua Faishal memperoleh pemahaman negatif mengenai Amerika Serikat secara simbolis. Beberapa waktu berselang, Michelle pindah kuliah ke Amerika Serikat dan menjalin hubungan dengan Matthew, yang beragama Nasrani. Kali ini, penentangan datang dari keluarga Michelle. Di Riyadh, pernikahan beda agama dilarang, terutama bagi pemeluk agama Islam. Sejak kecil, mereka diajarkan bahwa pernikahan beda agama adalah hal yang mendatangkan dosa. Ketika mereka melihat bahwa orang-orang di sekitarnya tidak ada yang melakukan pernikahan beda agama, mereka pun melakukan hal yang sama, dengan melarang hubungan Michelle dan Matthew.

Dengan menelaah kisah keempat perempuan Riyadh di atas, bukalah mata, hati, dan telingamu sehingga tidak memberi penilaian buruk terlalu cepat kepada mereka. Perempuan-perempuan ini penuh derita, yang disebabkan oleh pemahaman kinestetis, ikonis, dan simbolis yang terkadang keliru dari orang-orang di sekitar mereka. Mereka adalah korban dari minimnya proses berpikir orang-orang di sekitar mereka dalam memutuskan apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan. Seharusnya, berbagai persoalan yang dialami oleh perempuan-perempuan di atas jangan ditinjau dari satu cara berpikir saja, tetapi secara bertahap, yaitu dimulai dari kinestetis, ikonis, lalu simbolis. Lihatlah lebih dekat, rasakan lebih dalam, dan dengarlah lebih seksama. Maka derita itu akan sirna.

0 komentar:

Posting Komentar

Perempuan Punya Derita

| |

Di dalam buku yang berjudul The Girls of Riyadh,
Rajaa al-Sanea menceritakan kisah nyata keempat sahabatnya di Riyadh yang bernama Qamrah El Qashmany, Shedim El Harimly, Lumeis Jadawy, dan Michelle El Abdul Rahman. Keempat sahabatnya itu, masing-masing memiliki kisah yang dapat dikaji berdasarkan proses berpikir yang berkembang di lingkungan mereka dalam memandang perempuan dan segala problematikanya.

Kisah yang pertama adalah tentang Qamrah El Qashmany. Qamrah menikah dengan Rasyid melalui prosesi perjodohan. Dengan terpaksa, keduanya memenuhi keinginan orang tua masing-masing. Pada akhirnya, Rasyid berselingkuh dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap Qamrah, lalu Qamrah menjadi seorang janda dan membesarkan anaknya seorang diri. Di Riyadh, perjodohan merupakan hal yang biasa terjadi. Menurut adat yang berlaku di sana, perempuan tidak memiliki hak apapun untuk menolak perjodohan. Sejak kecil, mereka diajarkan bahwa perintah orang tua adalah sesuatu yang harus dituruti, sekalipun itu adalah perjodohan. Seorang anak perempuan mulai belajar mengenai apa yang harus dipatuhi dari perlakuan orang lain di sekitarnya terhadap anak perempuannya. Ketika ia melihat bahwa seorang perempuan tidak diperbolehkan untuk memilih pasangannya sendiri, ia pun melakukan hal yang sama. Di dalam benaknya, terpatri pemahaman bahwa seorang perempuan memang tidak memiliki hak untuk memilih pasangannya sendiri karena orang tua lebih berkompeten untuk memilihkan jodoh baginya. Perempuan-perempuan itu mengenali kedudukannya dengan melakukan sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat. Inilah yang disebut dengan pemahaman kinestetis, yaitu pemahaman yang dipelajari dari berbuat. Dalam hal ini, pemahaman dipengaruhi oleh keadaan sosio-kultural di sekitarnya.

Kisah yang kedua adalah tentang Shedim El Harimly. Shedim menyerahkan keperawanannya kepada Walid, tunangannya. Tragisnya, Walid meninggalkan Shedim setelah malam pertama pra nikah itu. Berpalingnya Walid ini mungkin dikarenakan pandangannya terhadap Shedim berubah semenjak malam pertama itu. Walid mencapai pemahaman ikonis, yang diperolehnya melalui pengalamannya yang menunjukkan kesamaan dan generalisasi. Di Riyadh, perempuan yang menyerahkan keperawanannya sebelum menikah dianggap bukan perempuan baik-baik. Berdasarkan kejadian yang Walid alami maupun saksikan, Walid menjadi yakin bahwa Shedim adalah bukan perempuan baik-baik. Beberapa waktu berselang, Shedim menjalin hubungan dengan Faraz. Menjelang pernikahan mereka, Shedim menceritakan masa lalunya dengan Walid kepada Faraz. Kejadian tragis kembali menimpa Shedim. Faraz meninggalkannya dan menikah dengan perempuan lain. Di Riyadh, keperawanan adalah simbol kesucian perempuan yang harus dijaga hingga ia menikah. Hilangnya keperawanan Shedim, secara simbolis, merupakan nilai minus bagi Faraz.

Kisah yang ketiga adalah tentang Lumeis Jadawy. Lumeis memilih untuk menentukan pasangannya sendiri, yaitu Ali. Namun, mereka harus berpisah karena perbedaan aliran yang dianut oleh keluarga masing-masing. Keluarga Ali adalah penganut aliran Syiah, sedangkan keluarga Lumeis adalah penganut aliran Sunni. Di Riyadh, menikah antara penganut aliran Syiah dan Sunni memang tidak lazim terjadi. Menurut adat yang berlaku di sana, perbedaan aliran merupakan hal prinsipil sehingga pemeluk aliran yang berbeda ‘dilarang’ untuk menikah. Sejak kecil, anggota keluarga mereka diajarkan bahwa pernikahan beda aliran itu ‘dilarang’. Ketika mereka melihat bahwa orang-orang di sekitarnya tidak ada yang melakukan pernikahan antara Syiah dan Sunni, mereka pun melakukan hal yang sama, dengan melarang hubungan Lumeis dan Ali. Inilah yang disebut dengan pemahaman kinestetis, yaitu pemahaman yang dipelajari dari berbuat. Dalam hal ini, pemahaman dipengaruhi oleh keadaan sosio-kultural di sekitarnya.

Kisah yang keempat adalah tentang Michelle El Abdul Rahman. Michelle harus mengakhiri hubungannya dengan Faishal karena calon mertuanya tidak berkenan dengan ibu Michelle yang keturunan Amerika Serikat. Mendengar kata Amerika Serikat, maka orang tua Faishal mengaitkannya dengan beberapa konsep yang disimbolkan dengan kata-kata seperti: negara pendukung Yahudi, pencipta ‘teror’ di Irak, bebas di luar batas ketimuran, dan lain sebagainya. Ini artinya, orang tua Faishal memperoleh pemahaman negatif mengenai Amerika Serikat secara simbolis. Beberapa waktu berselang, Michelle pindah kuliah ke Amerika Serikat dan menjalin hubungan dengan Matthew, yang beragama Nasrani. Kali ini, penentangan datang dari keluarga Michelle. Di Riyadh, pernikahan beda agama dilarang, terutama bagi pemeluk agama Islam. Sejak kecil, mereka diajarkan bahwa pernikahan beda agama adalah hal yang mendatangkan dosa. Ketika mereka melihat bahwa orang-orang di sekitarnya tidak ada yang melakukan pernikahan beda agama, mereka pun melakukan hal yang sama, dengan melarang hubungan Michelle dan Matthew.

Dengan menelaah kisah keempat perempuan Riyadh di atas, bukalah mata, hati, dan telingamu sehingga tidak memberi penilaian buruk terlalu cepat kepada mereka. Perempuan-perempuan ini penuh derita, yang disebabkan oleh pemahaman kinestetis, ikonis, dan simbolis yang terkadang keliru dari orang-orang di sekitar mereka. Mereka adalah korban dari minimnya proses berpikir orang-orang di sekitar mereka dalam memutuskan apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan. Seharusnya, berbagai persoalan yang dialami oleh perempuan-perempuan di atas jangan ditinjau dari satu cara berpikir saja, tetapi secara bertahap, yaitu dimulai dari kinestetis, ikonis, lalu simbolis. Lihatlah lebih dekat, rasakan lebih dalam, dan dengarlah lebih seksama. Maka derita itu akan sirna.

0 komentar:

Posting Komentar