Minggu, 15 Agustus 2010

Jerman 091189

Awal ketertarikanku terhadap Jerman adalah karena Panser (timnas sepakbola Jerman), Schumacher, dan Vettel tentunya. Lalu, aku sangat tertarik untuk mempelajari bahasanya. Namun, karena suatu hal, aku masih belum bisa memenuhi keinginanku itu. Untuk memuaskan dahagaku akan bahasa Jerman, aku putuskan untuk menonton film-film berbahasa Jerman yang diputar di taman budaya dan LIP Yogyakarta oleh Goethe-Institut bekerja sama dengan KINOKI/Taman Budaya Yogyakarta dan LIP (Lembaga Indonesia Perancis).

Untuk memperingati runtuhnya tembok berlin, Goethe-Institut memutarkan film-film yang bersetting sekitar runtuhnya tembok Berlin. Tembok berlin runtuh tanggal 9 November 1989, 20 tahun yang lalu.
Apa yang membuat rakyat Jerman bersatu padu merobohkannya?! Hal-hal yang terjadi saat perbatasan itu masih ada tentu yang menjadi penyebabnya. Lalu, bagaimanakah setelah mereka bersatu? Dua film yang aku tonton, Das Leben der Anderen dan Goodbye Lenin, menjadi sumber referensiku.

Film yang pertama yaitu Das Leben der Anderen, bercerita tentang kondisi di Jerman Timur saat tembok Berlin masih berdiri. Saat itu, di Jerman Timur gencar dilakukan penyadapan di mana-mana. Oknum-oknum politik tertentu, terutama kalangan partai yang paling berkuasa (di film ini, namanya Stasi), melakukan penyadapan kepada orang-orang yang dicurigai menentang pemerintah. Setiap tingkah laku dan percakapan langsung maupun telepon, dicuri dengar, lalu didokumentasikan (saat itu dengan menggunakan mesin ketik). Saat itu, sangat berbahaya berkomunikasi di dalam rumah dan melalui telepon, lebih baik cari tempat di luar rumah saja. Tentunya, aksi protes dan pemberontakan yang terekam, langsung ditindak dan pelakunya dijebloskan di penjara, dengan interogasi 48 jam yang sangat tidak manusiawi. Interogasi tanpa mengenal batas itu biasanya membuahkan hasil. Bahkan, pasangan yang sangat setia pun bisa menyerah dan membocorkan rahasia pasangannya. Tentu dengan sangat menyesal, lalu ia pun bunuh diri. Tragedi bunuh diri sangat ditutup-tutupi saat itu. Menulis tentang jumlah orang yang bunuh diri akibat tertekan oleh oknum-oknum tertentu, langsung diseret ke penjara. Saat tembok Berlin runtuh, kebebasan menulis bangkit kembali. Sang tokoh menjadi penulis terkenal, dan menulis buku khusus untuk sang penyadap, yang baik hati, HGW XX. Untuk HGW XX, aku juga salut atas pengorbananmu. Kamu orang baik.

Film yang kedua yaitu Goodbye Lenin. Setting yang diambil adalah ketika tembok Berlin sudah dirobohkan. Namun, demi kesehatan seorang ibu, sang anak mati-matian mengkondisikan seolah-olah tembok itu masih berdiri. Ia ingin ibunya tahu penyatuan Jerman secara perlahan, agar tidak terkena serangan jantung kembali. Penyatuan Jerman memang bisa membuat shock. Banyak pekerja Jerman Timur yang tiba-tiba ‘pensiun’. Kebebasan berekspresi, berbusana, tayangan televisi, marak terjadi. Namun perlahan sang ibu tahu dan meninggal dengan tersenyum. Betapa indahnya ketika abunya diterbangkan bersama ‘roket’ dan meluncur ke langit menjadi kembang api. Perdamaian memang indah.


P.S.: Tembok yang berdiri lebih dari 40 tahun akhirnya runtuh juga.

0 komentar:

Posting Komentar

Jerman 091189

| |

Awal ketertarikanku terhadap Jerman adalah karena Panser (timnas sepakbola Jerman), Schumacher, dan Vettel tentunya. Lalu, aku sangat tertarik untuk mempelajari bahasanya. Namun, karena suatu hal, aku masih belum bisa memenuhi keinginanku itu. Untuk memuaskan dahagaku akan bahasa Jerman, aku putuskan untuk menonton film-film berbahasa Jerman yang diputar di taman budaya dan LIP Yogyakarta oleh Goethe-Institut bekerja sama dengan KINOKI/Taman Budaya Yogyakarta dan LIP (Lembaga Indonesia Perancis).

Untuk memperingati runtuhnya tembok berlin, Goethe-Institut memutarkan film-film yang bersetting sekitar runtuhnya tembok Berlin. Tembok berlin runtuh tanggal 9 November 1989, 20 tahun yang lalu.
Apa yang membuat rakyat Jerman bersatu padu merobohkannya?! Hal-hal yang terjadi saat perbatasan itu masih ada tentu yang menjadi penyebabnya. Lalu, bagaimanakah setelah mereka bersatu? Dua film yang aku tonton, Das Leben der Anderen dan Goodbye Lenin, menjadi sumber referensiku.

Film yang pertama yaitu Das Leben der Anderen, bercerita tentang kondisi di Jerman Timur saat tembok Berlin masih berdiri. Saat itu, di Jerman Timur gencar dilakukan penyadapan di mana-mana. Oknum-oknum politik tertentu, terutama kalangan partai yang paling berkuasa (di film ini, namanya Stasi), melakukan penyadapan kepada orang-orang yang dicurigai menentang pemerintah. Setiap tingkah laku dan percakapan langsung maupun telepon, dicuri dengar, lalu didokumentasikan (saat itu dengan menggunakan mesin ketik). Saat itu, sangat berbahaya berkomunikasi di dalam rumah dan melalui telepon, lebih baik cari tempat di luar rumah saja. Tentunya, aksi protes dan pemberontakan yang terekam, langsung ditindak dan pelakunya dijebloskan di penjara, dengan interogasi 48 jam yang sangat tidak manusiawi. Interogasi tanpa mengenal batas itu biasanya membuahkan hasil. Bahkan, pasangan yang sangat setia pun bisa menyerah dan membocorkan rahasia pasangannya. Tentu dengan sangat menyesal, lalu ia pun bunuh diri. Tragedi bunuh diri sangat ditutup-tutupi saat itu. Menulis tentang jumlah orang yang bunuh diri akibat tertekan oleh oknum-oknum tertentu, langsung diseret ke penjara. Saat tembok Berlin runtuh, kebebasan menulis bangkit kembali. Sang tokoh menjadi penulis terkenal, dan menulis buku khusus untuk sang penyadap, yang baik hati, HGW XX. Untuk HGW XX, aku juga salut atas pengorbananmu. Kamu orang baik.

Film yang kedua yaitu Goodbye Lenin. Setting yang diambil adalah ketika tembok Berlin sudah dirobohkan. Namun, demi kesehatan seorang ibu, sang anak mati-matian mengkondisikan seolah-olah tembok itu masih berdiri. Ia ingin ibunya tahu penyatuan Jerman secara perlahan, agar tidak terkena serangan jantung kembali. Penyatuan Jerman memang bisa membuat shock. Banyak pekerja Jerman Timur yang tiba-tiba ‘pensiun’. Kebebasan berekspresi, berbusana, tayangan televisi, marak terjadi. Namun perlahan sang ibu tahu dan meninggal dengan tersenyum. Betapa indahnya ketika abunya diterbangkan bersama ‘roket’ dan meluncur ke langit menjadi kembang api. Perdamaian memang indah.


P.S.: Tembok yang berdiri lebih dari 40 tahun akhirnya runtuh juga.

0 komentar:

Posting Komentar