Belum cukup dengan kondisi tanahnya yang memprihatinkan, ‘rumahku’ yang dulu juga tak beratap. Dengan demikian, aliran air yang turun dari langit pasti langsung mengenai tubuhku. Aku tidak habis pikir, mengapa akhir-akhir ini selalu hujan, bahkan beberapa kali dalam sehari. “Oh, udan terus, Lek. Wes November yo, mongso rendeng” (Oh, hujan terus, Lek. Sudah November ya, musim penghujan) keluh seorang wanita paruh baya, mengenakan kebaya kuno, rambutnya tergelung, yang badannya bau sekali.
Sebenarnya, bau badan wanita itu hanyalah sebagian kecil penyumbang bau yang tak karuan di ‘rumahku’ itu. Sudah aku katakan sebelumnya, bahwa banyak sampah yang berserakan di tanah. Selain itu, banyaknya manusia beserta keringatnya, tentu saja turut berkontribusi terhadap bau yang menjengkelkan di ‘rumahku’. Namun aku tahu diri. Aku sadar bahwa tubuhku pasti jauh lebih bau daripada bau apa pun juga. Untuk itulah, aku tidak pernah sekali pun berusaha mengatasi bau-bauan itu dengan menutup hidungku. Hmm…Seandainya aku kebauan, aku juga hanya bisa pasrah. Bagaimana bisa, aku menutup hidungku menggunakan tangan? Aku tidak punya tangan.
Tampaknya tangan bukanlah hal yang penting bagiku. Tanpa tangan, hidupku sangatlah normal. Aku tak bisa membayangkan jika aku mempunyai sepasang tangan, lalu orang-orang akan mengerumuniku, memotret-motretku tanpa ijin, dan terus mengamatiku dengan takjub, hingga aku pun jengah. Oleh karena itu, aku sangat bersyukur karena aku hanya punya kaki.
Rasa syukurku bertambah ketika seorang lelaki paruh baya membawaku pergi dari ‘rumahku’ itu. Kami berjalan berdampingan. Dalam artian, aku ada di sampingnya. Tetapi jangan terburu-buru untuk menafsirkan bahwa kami bergandengan tangan atau semacamnya. Ingat, aku tidak punya tangan. Karena itulah, ia tidak bisa menggandengku. Dan aku tahu, ia tidak mempercayaiku sama sekali. Ia pasti khawatir bahwa aku akan lari, jika ia tidak berhati-hati. Maka ia mengalungiku dengan sebuah tali berwarna hijau. Ia mencengkeram erat tali itu. Padahal aku tidak berniat sedikit pun untuk lari. Aku masih sangat lelah.
Benar rupanya, lelahku sudah di ambang batas. Aku tidak sadar berapa lama aku memejamkan mata. Tiba-tiba saja, semburat sinar mentari pagi memasuki celah-celah bambu di ruangan yang aku huni. Aku menegakkan tubuhku, menatap pintu dengan waspada. Beberapa lama kemudian, ada seseorang yang membuka pintu bambu itu. Ia berambut pendek, mengenakan seragam sekolah dan celana pendek, bertubuh gempal, matanya sipit, gigi yang terletak di rahang bawahnya lebih maju daripada gigi di rahang atasnya, dan berkulit sawo matang. Aku tidak tahu tentang batasan tampan, tetapi ia tidak bisa dikatakan tampan. Bukannya aku jahat, tetapi memang demikianlah bocah itu, menurutku.
“Ika…Ika…Ayo berangkat ke SLB…Nanti telat…”terdengar teriakan seorang wanita dari kejauhan. Aku pun terkejut. Bukankah ‘Ika’ lazimnya adalah nama seorang perempuan? Bagaimana bisa, fisik bocah itu sangat laki-laki. Bocah itu, Ika, tampaknya mendengar teriakan tersebut, lalu menghampiriku. Ia mengelus-elusku dengan sayang, lalu berbalik dan pergi meninggalkanku.
Ika meninggalkanku dengan pintu yang terbuka. Aku tersenyum lebar. Kesempatanku untuk lari telah tiba. Namun, entah kenapa, rasa penasaranku terhadap Ika, mengalahkan segalanya. Aku akan bertahan sampai besok. Aku ingin mengenal Ika lebih jauh lagi. Baru sepuluh menit ditinggalkan, aku sudah kangen belaian lembut Ika. Aku ingin dibelai lagi.
Gaung pun bersambut. Saat kangenku sudah tak tertahankan, Ika datang menghampiriku. Senangnya, aku dapat merasakan belaian Ika lagi. Memang agak naif, tetapi aku sangat senang dibelai. Mungkin karena aku jarang dibelai. Setelah membelaiku beberapa kali, Ika menarikku keluar dari ruangan bambu itu.
Ika mengajakku ke sebuah sumur. Ia menimba air dengan giat, lalu, “Byur!” air itu ia tumpahkan begitu saja ke badanku. Tentu saja aku terkejut bukan main. Seketika itu juga tubuhku bergidik kedinginan. Aku benar-benar ingin lari saat itu. Namun Ika mempunyai tenaga yang luar biasa. Ia memegangi taliku dengan kencang, sembari mencari-cari sabun dan sikat untuk menggosok badanku. Kakiku menyentak-nyentak. Aku sangat marah.
Aku pun terus mengibas-ngibaskan air di badanku sekuat tenaga. Karenanya, air-air itu mengenai baju dan wajah Ika. Hahaha. Itu yang aku harapkan. Seenaknya saja mau memandikan aku. Memangnya aku peduli dengan bau badanku? Toh meskipun dimandikan dengan kembang tujuh rupa pun, bauku akan tetap seperti ini. Mengapa Ika tidak bisa mengerti? Bukannya berhenti, Ika hanya menghapus air yang mengenai wajahnya, lalu mulai menimba lagi. “Krek..krek..krek..”bunyi timba air yang ditarik ke atas, terdengar begitu horor bagiku. “Krek…krek..krek…”yak, aku sudah siap, “Byur!” Sekali lagi Ika mengguyurkan air di badanku. Aku sungguh muak. Perutku keroncongan. Tetapi sudahlah, aku toh tidak bisa apa-apa. Ika memegangi taliku dengan sangat erat.
Untungnya, setelah guyuran kesekian kalinya, seorang perempuan paruh baya, menghampiri kami dengan tergopoh-gopoh. Ia merebut timba dari tangan Ika. Oh dewi penyelamatku! Terima kasih telah menjauhkan benda sialan itu dariku. Perempuan itu menegur Ika. Ika tampak sangat terpukul. Binar matanya meredup. Seketika itu juga, rasa kesalku padanya sirna. Aku tahu ia sebenarnya mencintaiku, dengan caranya yang luar biasa.
Esoknya, Ika datang lagi. Kali ini, kedatangannya membuatku bersemangat. Ia membawakan makanan kesukaanku. Bahkan, sesekali ia menyuapiku dengan riang. Bagaimana mungkin ada manusia seperti dia? Kemarin ia tampak sangat sedih. Sekarang, goresan kesedihan itu tidak tampak sedikit pun di wajahnya. Matanya telah kembali berbinar. Senyumnya telah kembali mengembang, sehingga deretan gigi bawahnya menonjol dengan jelas. Aku sangat suka dengan Ika yang seperti ini.
Esoknya lagi, lusa, setelah lusa, hingga beberapa bulan berselang, aku dan Ika selalu bersama. Sepulang sekolah, ia selalu menemuiku dan menyuapiku seperti biasa, hingga aku semakin gemuk. Lucunya, Ika selalu lupa untuk mengunci pintu bambu ini setiap hari. Anak itu sungguh teledor. Tapi anehnya, tidak pernah terbersit sedikit pun di dalam benakku untuk kabur dari tempat ini. Di dalam hatiku hanya ada Ika. Aku tidak bisa membayangkan bila suatu saat harus berpisah darinya.
Firasat buruk pun mulai berkecamuk di pikiranku. Beberapa hari ini, Ika tidak seperti biasanya. Senyuman khasnya hilang. Sinar matanya menjadi redup. Aku sangat tidak suka Ika yang seperti ini. Ika yang diam-diam menangis di ruangan bambu ini. Beberapa hari ini, Ika memang tampak melankolis. Aku tidak tahu kenapa, yang jelas, ia selalu menangis di dekatku.
Ingin rasanya menghibur dirinya. Tapi apa daya? Aku tak punya tangan untuk balas membelainya. Aku tak bisa berbicara dengan bahasanya. Meskipun aku coba untuk bersuara, ia tidak akan mengerti. Hatiku sakit karenanya. Apa yang bisa kulakukan untuk Ika? Kenapa aku tidak bisa membantu Ika, orang yang sangat aku cintai.
Suatu malam, Ika yang dipenuhi derai air mata, mendatangiku. Itu adalah pertama kalinya Ika mengajakku bicara, dalam bahasanya. “Kamu tahu surga?”tanyanya kepadaku. Hatiku mencelos. Pertama kalinya ia mengajakku bicara, mengapa topiknya adalah surga? Apa itu surga? “Kamu pasti masuk surga”ujarnya lirih, di sela-sela isak tangisnya.
Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Surga? Tunggu dulu. Sepertinya aku tahu sedikit tentang surga. Setiap kali manusia menengadahkan tangan, mereka selalu meminta agar kelak, Tuhan memasukkan mereka ke dalam surga. Aku jadi ingat bahwa aku tidak pernah berdoa. Apakah aku cukup pantas untuk berdoa? Badanku sangat kotor. Bagaimana tidak? Aku selalu ‘menolak’ jika Ika hendak memandikanku. Namun, hatiku mungkin tidak sekotor badanku. Aku menjadi optimis.
Aku pun mengingat-ingat apa saja yang telah aku lakukan selama aku hidup di dunia ini. Apakah aku pernah melakukan perbuatan yang menuai dosa? Seingatku, tindakan tersadisku adalah ketika aku mengibas-ngibaskan air di badanku hingga mengenai baju dan wajah Ika. Apakah aku berdosa karenanya? Maukah Tuhan mengampuniku? Aku hanya bisa berharap.
“Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, …”Ika terus-menerus mengucapkan kata-kata itu setiap ia mengunjungiku. Kini ia tak lagi menyuapiku. Ia hanya menaruh makananku di hadapanku dan duduk meringkuk di sampingku. Lalu, ia menangis.
***
Aku tahu kini, kenapa Ika menangis dan meminta maaf kepadaku berulang kali. Sayangnya, aku menyadarinya ketika aku sudah dibariskan bersama sesamaku di suatu lapangan, dan telah diberi nomor urut. Nomor urutku adalah 13, dan di bawahnya tertera nama ‘Ika’. Melihatnya, cintaku pada Ika berubah jadi benci. Ternyata, ia hanya memanfaatkanku selama ini. Ia tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Ia menyuapiku hanya agar aku bertambah gemuk. Semakin gemuk, hargaku semakin mahal. Uang, lagi-lagi uang. Manusia memang tidak punya hati. Bagaimana bisa masuk surga, jika kelakuan mereka lebih buruk dariku?!
Hari semakin siang, bau anyir darah semakin menusuk hidung. Tetapi di mana Ika? Kenapa ia tidak datang? Paling tidak, ia bisa menenangkanku saat ini. Di detik-detik menjelang ajalku. Sungguh ironis, meski telah dikecewakan sedemikian rupa, aku tetap mengharapkan kehadirannya. Cinta memang buta.
Mengapa aku masih juga memikirkan Ika? Ia telah menjualku, hanya demi uang. Dan aku harus mati karenanya. Seketika itu, terlintas saat-saat kebersamaanku dengannya. Betapa ia sangat teledor karena selalu lupa mengunci pintu bambu. Aku menjadi sangat menyesal mengingat hal itu. Kenapa aku tidak kabur saja waktu itu? Demi Ika…Aku bertahan. Apa harus demi Ika lagi…Aku mati?!
Di tengah keputusasaanku, aku tersadar. Mungkinkah Ika sebenarnya tidak pernah lupa untuk mengunci pintu? Mungkinkah Ika memang sengaja membiarkan pintu bambu itu tidak terkuci, agar aku bisa lari? Hmph, aku pun tersenyum. Inilah saatnya bagiku untuk membalas kebaikan Ika selama ini. Inilah saatnya bagiku untuk berarti. Mungkin aku pernah sangat merana karena ditakdirkan untuk menjadi seekor kambing jantan. Dulu aku sangat iri kepada kambing betina, yang bisa melahirkan anak, karenanya, ia jarang dijadikan kambing kurban. Namun sekarang, aku sangat bersyukur. Bahwa aku dijadikan kambing kurban. Bahwa dagingku akan dibagi-bagikan kepada orang-orang.
***
Pada saat yang bersamaan, di ruangan bambu, Ika duduk meringkuk dengan penuh deraian air mata. Ia memegang sehelai kertas, yang penuh dengan tulisan cakar ayamnya...
'Kesedihan telah mempercepat perpisahan kita
Setelah cinta kita lewati, kebahagiaan, dan hidup menyenangkan
Perpisahan setelah kegembiraan merupakan
Kesedihan yang menyakitkan
Apakah seorang kekasih harus menghadapi ujian seperti itu
Kesedihan yang diakibatkan kematian
Sakit hanya berlangsung sejenak
Namun kesedihan karena perpisahan
Selalu tertanam di dalam hati
Dan tak pernah terlupa akan kisah dan cerita
Tuhan telah mempersatukan kekasih untuk bersatu
Tetapi juga memisahkan
Untuk tidak bersatu lagi untuk selama-lamanya
Karena Allah selalu memberikan kita yang terbaik
Dan selalu adil kepada hamba-Nya'
***
Tibalah giliranku untuk disembelih. Aku sudah ikhlas dan bangga dengan pengorbananku ini. Semua demi Ika. Tapi, apakah ia tahu? Apakah ia bisa berhenti menangis?
Andai aku bisa bicara, ingin rasanya kuucapkan pada Ika, cinta matiku, bahwa aku bahagia.

______________________________________________________
Sebuah cerpen yang terinspirasi dari Keramba, karya Shofi Awanis.
Selamat Idul Adha :)
P.S: Puisi di atas berjudul ‘Cerita’, karya Zulaika, siswi kelas C1 SLB Tunas Kasih, Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman.


0 komentar:
Posting Komentar