Ingin menangis
Tiada henti
Rasa yang menyayat
Inikah pahit kehidupan yang kualami
Hampa tanpa rasa bahagia
-Hampa, karya Ika, 19 tahun, Kelas C1 SLB Tunas Kasih, Sleman-
Itulah sekelumit kepahitan yang terangkai dalam kata-kata indah. Puisi nan indah itu adalah ungkapan rasa dari seorang murid Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunas Kasih, Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman. Ia merasa sedih dengan adanya stereotip negatif dari masyarakat terhadap murid-murid SLB. Seakan-akan, keberadaan mereka tidak dihargai dan diakui.
Padahal, dunia telah ‘mengakui’ keberadaan anak-anak luar biasa itu melalui peringatan International Difable Day setiap 3 Desember. Kata ‘difabel’, dalam Bahasa Inggris diartikan ‘differently-abled’, mencerminkan adanya revolusi pemikiran dalam memandang murid-murid SLB. Dengan menyebutnya difabel, bukan cacat, akan terpatri sebuah pemahaman bahwa mereka adalah anak-anak yang memiliki kemampuan berbeda, bukannya memiliki kekurangan, yang bisa dilecehkan.
Pada kenyataannya, murid-murid SLB masih juga akrab dengan pelecehan-pelecehan dari masyarakat. Kini, orang-orang memang tidak lagi melecehkan mereka secara lugas dengan menghina perbedaan fisik ataupun mental mereka. Akan tetapi, orang-orang lebih sering melecehkan mereka secara tidak langsung. Bentuk pelecehan secara tidak langsung yang sering mereka alami adalah penolakan dari orang-orang terhadap cinta yang mereka tawarkan. Ketika bertamasya di kebun binatang Gembira Loka, Yogyakarta, murid-murid SLB Tunas Kasih harus menerima kenyataan pahit tersebut. Pengunjung Gembira Loka yang mereka sapa dan mereka ajak berjabat tangan, justru lari.
Ketakutan Pengunjung Gembira Loka itu bukannya tanpa alasan. Orang-orang itu takut dengan respons murid-murid SLB jika mereka berinteraksi. Sungguh ironis. Suatu tawaran rasa cinta pun harus dikhawatirkan sedemikian rupa. Seakan-akan, murid-murid SLB tidak boleh mengekspresikan rasa cinta mereka.
Memang, anak-anak luar biasa itu tidak mungkin mengekspresikan rasa cinta mereka dengan cara yang biasa. Tentu saja mereka akan meluapkannya secara luar biasa.

Mereka mencintai gurunya secara luar biasa. Siswa-siswi di sekolah yang biasa, cenderung biasa saja dalam menyikapi ketidakhadiran guru. Bahkan, cenderung girang bukan kepalang karenanya. Namun tidak demikian dengan murid-murid SLB. Mereka akan menangis sejadi-jadinya jika gurunya berhalangan hadir. Mengapa demikian? Karena di antara mereka telah terjalin hubungan emosional yang sangat kuat. Penyebabnya tak lain adalah berkat siasat sang guru dalam mengajar. Beliau tidak terlalu terobsesi untuk membuat anak-anak itu lekas memahami pelajaran-pelajaran sesuai dengan kurikulum. Beliau mungkin merasa bahwa kurikulum merupakan representasi adanya hegemoni orang-orang biasa terhadap anak-anak yang luar biasa.
Mengabaikan tuntutan kurikulum, sang guru justru menuruti kemauan murid-muridnya. Meskipun kemauan mereka seringkali di luar batas kesabaran, sang guru memahaminya karena Beliau sadar bahwa mereka tidak akan sanggup belajar dengan waktu yang sama dengan orang-orang biasa. Mereka mudah merasa letih hanya dengan menjawab satu soal saja. Karenanya, mereka sering meminta rehat dan kemudian bermain sesukanya. Sang guru menyesuaikan saja dengan kondisi murid-muridnya itu. Ia baru akan mengajar kembali jika murid-muridnya benar-benar siap untuk menerima ilmu. Benar saja, percuma saja menuangkan teh pada cangkir yang sudah penuh, bukan?
Untungnya, murid-murid yang luar biasa itu tidak semata-mata memanfaatkan kelonggaran peraturan dari gurunya dengan terus bermain sesukanya. Buktinya, ketika gurunya tidak masuk, mereka menangis. Karena cangkir mereka telah kosong sehingga perlu diisi lagi, oleh guru itu, bukan oleh orang lain. Dengan saling memahami satu sama lain, terbentuklah ikatan emosional yang sangat luar biasa di antara guru dan murid itu.
Selain dengan guru, anak-anak itu juga memiliki ikatan emosional yang kuat dengan teman-temannya di SLB. Berbeda dengan anak-anak biasa yang berteman karena persamaan-persamaan yang dimiliki, misalnya kesamaan fisik, hobi, gaya hidup, dan sebagainya, anak-anak luar biasa itu justru berteman karena perbedaan-perbedaan yang mereka miliki.
Mereka tahu bahwa mereka berbeda satu sama lain dan saling memahami perbedaan itu. Misalnya, dalam upayanya untuk memahami anak autis yang dicintainya, mereka tidak akan merangkulnya karena ia tidak akan suka. Sentuhan fisik yang terlalu dekat akan menyiksa anak itu.
Jika kasusnya bukan autis, mereka dapat mengekspresikan rasa cinta terhadap temannya dengan lebih nyata. Mereka lebih jujur dalam mengungkapkan rasa cintanya. Cinta tidak mengenal batasan malu, begitu mungkin pikir mereka. Maka, mereka tidak akan sungkan untuk bergelendotan manja, menggamit tangan, merangkul, memeluk, dan mencium pipi teman-teman yang dicintainya.
Hal itu mungkin adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang biasa tetapi menjadi luar biasa jika dilakukan oleh murid-murid SLB itu. Betapa tidak? Dengan perbedaan-perbedaan yang mereka miliki, mereka dapat berbagi cinta dan tertawa bersama.
Meskipun demikian, tidak selamanya cinta di antara mereka itu ‘aman’. Anak yang autis aktif, memiliki sedikit kesulitan dalam mengontrol rasa cintanya. Ia mengungkapkannya dengan cara yang lebih luar biasa. Awalnya, ia mengelus-elus pipi temannya, beberapa lama kemudian, ia menampar-namparnya, lalu membantingnya ke lantai.
Ungkapan cinta yang demikian memang berbahaya, tetapi teman-temannya mengerti kesulitan anak itu dan memahaminya. Buktinya, mereka tidak pernah sekali pun merasa takut untuk menerima cinta dari anak itu. Mereka tidak pernah takut untuk dicintai, sehingga mereka pun tidak pernah takut untuk terus mencintai, apa pun resikonya.
Seribu malaikat turun ke bumi
Kepakkan sayap rindu
Ke kelopak hatimu
Hingga mimpi mengembara
Kaulah ruh pecinta
Yang lahir di sini
Yang sanggup mengungkap
Rahasia embun pada daun
Ilhami cerita burung pada cantik
Dan kaulah warna sahabatku
Yang terungkap
Bila aku terjaga
Di bening matamu
Kulihat kristal hatiku kesepian
Pijar sinar bola matamu
Sinari hati yang merindukanmu
Kilat kaca matamu indah sekali
Melukiskan isi hatimu
Di telaga matamu di ufuk timur
Ada pijar bening berwarna
Di telaga matamu
Ada sahabatku yang membaca cerita
-Cerita, karya Ika, 19 tahun, Kelas C1 SLB Tunas Kasih, Sleman-
Anak-anak luar biasa itu tak hanya mencintai guru dan teman-temannya karena pada hakekatnya mereka adalah manusia biasa yang juga memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. Ketertarikan mereka itu tanpa alasan yang jelas. Mereka pikir, tidak perlu ada alasan untuk mencintai seseorang. Namun terkadang, alasan dari ketertarikan mereka sangat tidak terduga. Mereka dapat mencintai seseorang yang baru dikenalnya, hanya karena mirip dengan seseorang. Mereka akan memandang pujaan hatinya terus-menerus, mendekatinya, dan menanyakan nomor Handphone serta alamat rumahnya. Mereka tidak mudah menyerah. Mereka akan terus mencarinya, sampai ketemu.
Setelah mendapatkan nomor Handphone pujaan hatinya, mereka akan mengirim SMS yang isinya adalah rayuan-rayuan yang mengandung kata ‘love’, ‘kiss’, dan ‘cantik’, kemudian disusul dengan rentetan puisi-puisi yang ditulis khusus untuk pujaan hatinya itu. Jika tak jua membalasnya, anak-anak luar biasa itu akan menelponnya.Mereka akan menagih cinta yang disembunyikan rapat-rapat oleh pujaan hatinya.
Cinta yang mereka tawarkan sebenarnya sangat luar biasa. Namun orang-orang biasa tidak dapat merasakannya sebagai hal yang luar biasa, dan bahagia karenanya. Bagi orang-orang biasa, cinta mereka sangat naif dan agresif, bahkan cenderung menakutkan.
Sadarkah bahwa ketakutan-ketakutan yang berlebihan dalam menerima cinta mereka, dapat membuat mereka patah hati?
Kukepakkan sayap perasaanku
Untuk jelajahi hati yang sepi
Rasa yang kian merajai hati
Namun…dapatkah ku
Memendam rasa ini
Inginku bukan hanya jadi temanmu
Angin pun jadi saksi
Semua kurajut dalam mimpi
Impian-impian yang selama ini terpatri
Hampaku dalam penantian
It’s my M
-Penantian, karya Ika, 19 tahun, Kelas C1 SLB Tunas Kasih, Sleman-
Beberapa ekspresi cinta di atas, jika dilakukan oleh anak-anak di sekolah biasa, akan menjadi hal yang biasa saja. Orang-orang tidak akan begitu mempermasalahkannya, karena mencintai lawan jenis adalah kodrat bagi setiap orang. Namun, mengapa hal itu begitu dipermasalahkan jika dilakukan oleh murid-murid SLB?
Padahal, murid-murid SLB pada hakekatnya sama dengan anak-anak biasa. Pikiran kita lah yang menjadikan mereka berbeda. Selama ini, kita selalu terbiasa untuk menilai seseorang atau sesuatu dengan sebuah ukuran. Dari ukuran itu, manusia menjadi terkotak-kotakkan.
Ingatlah bahwa bentuk cinta itu tidak kotak. Bentuknya jauh lebih indah dan luar biasa.
Atas cinta mereka yang begitu indah dan luar biasa, jangan lari! Tengadahkan kedua tangan, tarik ke arah badan, lalu silangkan keduanya di depan dada, dengan jari telunjuk dan jari tengah dalam keadaan terbuka. Artinya, ucapkanlah terima kasih.


0 komentar:
Posting Komentar